Jenis ejaan yang pernah digunakan di Indonesia

 

Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan Van Ophuijsen adalah jenis ejaan yang pernah digunakan untuk bahasa Indonesia.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf Latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

Kebanyakan catatan tertulis bahasa Melayu pada masa itu menggunakan huruf Arab yang dikenal sebagai tulisan Jawi.

Sejarah singkat

Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan bahasa Indonesia yang pertama kali oleh Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku. Dalam kitab itu dimuat sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Ejaan ini akhirnya digantikan oleh Ejaan Republik pada 17 Maret 1947.

Ejaan Republik

Ejaan Republik (edjaan repoeblik) adalah ketentuan ejaan dalam Bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Ejaan ini kemudian juga disebut dengan nama edjaan Soewandi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu.

Ejaan ini mengganti ejaan sebelumnya, yaitu Ejaan Van Ophuijsen yang mulai berlaku sejak tahun 1901.

Perbedaan-perbedaan antara ejaan ini dengan ejaan Van Ophuijsen ialah:

  • huruf ‘oe’ menjadi ‘u’, seperti pada goeroeguru.
  • bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan (‘) ditulis dengan ‘k’, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
  • kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.
  • awalan ‘di-‘ dan kata depan ‘di’ kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.

Ejaan Soewandi ini berlaku sampai tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada masa menteri Mashuri Saleh. Pada masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 23 Mei 1972 Mashuri mengesahkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia yang menggantikan Ejaan Soewandi. Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan mencopot nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari Djl. Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.

Pembaruan ejaan

Pembaruan ejaan (bahasa Inggris: spelling reform) adalah tindakan untuk memperbaiki sistem ejaan dengan membuatnya lebih menggambarkan fonem yang ada dalam suatu bahasa. Sejak awal abad ke-19, lebih dari 31 bahasa modern telah melakukan pembaruan ejaan, kadang secara radikal. Indonesia telah mengalami beberapa kali pembaruan ejaan dengan yang terakhir berupa pemberlakuan Ejaan Yang Disempurnakan pada tahun 1972.

 

Ejaan Melindo

Ejaan Melindo adalah sistem ejaan Latin yang termuat dalam Pengumuman Bersama Edjaan Bahasa Melaju-Indonesia (Melindo) (1959) sebagai hasil usaha penyatuan sistem ejaan dengan huruf Latin di Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu. Keputusan ini dilakukan dalam Perjanjian Persahabatan Indonesia dan Malaysia pada tahun 1959. Sistem ini tidak pernah sampai diterapkan.

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang Disempurnakan adalah penyempurnaan dari ejaan – ejaan sebelumnya yang merupakan hasil kerja dari panitia ejaan Bahasa Indonesia yang dibentuk oleh LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) pada 1966. Ejaan ini diresmikan dalam pidato kenegaraan memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 27, 17 Agustus 1972. Selanjutnya dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Beberapa penyempurnaan itu diantaranya adalah :

1. Huruf J, DJ, NJ, CH, TJ, SJ pada Ejaan Soewandi diubah menjadi Y, J, NY, KH, C, SY
2. Kata ulang harus ditulis hanya dengan menggunakan tanda hubung. Penggunaan angka 2 diperkenankan hanya pada penulisan cepat atau notula.

I. PEMAKAIAN HURUF

A. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di kolom ketiga.

Huruf

Nama

Kapital

Kecil

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet

B. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.

Huruf
Vokal

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

a
e*

i
o
u

api
enak
emas
itu
oleh
ulang
padi
petak
kena
simpan
kota
bumi
lusa
sore
tipe
murni
radio
ibu

Keterangan:

*

Untuk keperluan pelafalan kata yang benar, tanda aksen (‘) dapat digunakan jika ejaan kata menimbulkan keraguan.

Misalnya:

Anak-anak bermain di teras (téras).

Upacara itu dihadiri pejabat teras Bank Indonesia.

Kami menonton film seri (séri).

Pertandingan itu berakhir seri.

Di mana kécap itu dibuat?

Coba kecap dulu makanan itu.

C. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf
Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

b
c
d
f
g
h
j
k

l
m
n
p
q**
r
s
t
v
w
x**
y
z

bahasa
cakap
dua
fakir
guna
hari
jalan
kami
-
lekas
maka
nama
pasang
Quran
raih
sampai
tali
varia
wanita
xerox
yakin
zeni
sebut
kaca
ada
kafan
tiga
saham
manja
paksa
rakyat*
alas
kami
tanah
apa
status quo
bara
asli
mata
lava
hawa
-
payung
lazim
adab
-
Abad
maaf
gudeg
tuah
mikraj
politik
bapak*
akal
diam
daun
siap
Taufiq
putar
tangkas
rapat
-
-
sinar-x
-
juz

Keterangan:

*

Huruf k melambangkan bunyi hamzah.

**

Huruf q dan x khusus dipakai untuk nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan keperluan ilmu (seperti status quo dan sinar x).

D. Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf
Diftong

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

ai
au
oi
ain
aula
-
malaikat
saudara
boikot
pandai
harimau
amboi

E. Gabungan Huruf Konsonan

Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing masing melambangkan satu bunyi konsonan.

Gabungan
Huruf
Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

kh
ng
ny
sy
khusus
ngilu
nyata
syarat
akhir
bangun
banyak
isyarat
tarikh
senang
-
arasy

Catatan:

Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain ditulis sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.

F. Huruf Kapital

1.

Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:

Dia membaca buku.

Apa maksudnya?

Kita harus bekerja keras.

Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”

Kemarin engkau terlambat,” katanya.

Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat.”

3.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Islam

Quran

Kristen

Alkitab

Hindu

Weda

Allah

Yang Mahakuasa

Yang Maha Pengasih

Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

 

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin

Sultan Hasanuddin

Haji Agus Salim

Imam Syafii

Nabi Ibrahim

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Pada tahun ini dia pergi naik haji.

Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.

5.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

Profesor Supomo

Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian

Gubernur Jawa Tengah

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.

Misalnya:

Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.

Sidang itu dipimpin Presiden.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.

Misalnya:

Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?

Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.

Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.

6.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.

Misalnya:

Amir Hamzah

Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman

Halim Perdanakusumah

Ampere

Catatan:

 

(1)

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).

Misalnya:

J.J de Hollander

J.P. van Bruggen

H. van der Giessen

Otto von Bismarck

Vasco da Gama

(2)

Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.

Misalnya:

Abdul Rahman bin Zaini

Ibrahim bin Adham

Siti Fatimah binti Salim

Zaitun binti Zainal

 

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

pascal second

Pas

J/K atau JK-1

joule per Kelvin

N

Newton

c.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

mesin diesel

10 volt

5 ampere

7.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

bangsa Eskimo

suku Sunda

bahasa Indonesia

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

pengindonesiaan kata asing

keinggris-inggrisan

kejawa-jawaan

8.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.

Misalnya:

tahun Hijriah

tarikh Masehi

bulan Agustus

bulan Maulid

hari Jumat

hari Galungan

hari Lebaran

hari Natal

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.

 

Misalnya:

Perang Candu

Perang Dunia I

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.

Misalnya:

Banyuwangi

Asia Tenggara

Cirebon

Amerika Serikat

Eropa

Jawa Barat

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.

Misalnya:

Bukit Barisan

Danau Toba

Dataran Tinggi Dieng

Gunung Semeru

Jalan Diponegoro

Jazirah Arab

Ngarai Sianok

Lembah Baliem

Selat Lombok

Pegunungan Jayawijaya

Sungai Musi

Tanjung Harapan

Teluk Benggala

Terusan Suez

c.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.

Misalnya:

ukiran Jepara

pempek Palembang

tari Melayu

sarung Mandar

asinan Bogor

sate Mak Ajad

d.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.

Misalnya:

berlayar ke teluk

mandi di sungai

menyeberangi selat

berenang di danau

e.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.

Misalnya:

nangka belanda

kunci inggris

petai cina

pisang ambon

10.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.

Misalnya:

 

Republik Indonesia

Departemen Keuangan

Majelis Permusyawaratan Rakyat

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.

Misalnya:

beberapa badan hukum

kerja sama antara pemerintah dan rakyat

menjadi sebuah republik

menurut undang-undang yang berlaku

Catatan:

Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.

Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.

Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.

11.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan

12.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.

13.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:

Dr.

doktor

S.E.

sarjana ekonomi

S.H.

sarjana hukum

S.S.

sarjana sastra

S.Kp.

sarjana keperawatan

M.A.

master of arts

M.Hum.

magister humaniora

Prof.

profesor

K.H.

kiai haji

Tn.

tuan

 

Ny.

nyonya

Sdr.

saudara

Catatan:

Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

14.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.

Misalnya:

Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”

Besok Paman akan datang.

Surat Saudara sudah saya terima.

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.

“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

15.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Siapa nama Anda?

Surat Anda telah kami terima dengan baik.

16.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).

G. Huruf Miring

1.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:

Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.

Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.

Berita itu muncul dalam surat kabar Suara Merdeka.

Catatan:

Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

2.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya:

Huruf pertama kata abad adalah a.

Dia bukan menipu, melainkan ditipu.

Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.

 

Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan berlepas tangan.

3.

a.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Weltanschauung dipadankan dengan ‘pandangan dunia’.

b.

Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.

Misalnya:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi.

H. Huruf Tebal

1.

Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.

Misalnya:

Judul

 :

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Bab

 :

BAB I PENDAHULUAN

Bagian bab

 :

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Tujuan

Daftar, indeks, dan lampiran:

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMBANG

DAFTAR PUSTAKA

INDEKS

LAMPIRAN

2.

Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.

Misalnya:

Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.

Saya tidak mengambil bukumu.

Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

Seharusnya ditulis dengan huruf miring:

Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.

Saya tidak mengambil bukumu.

Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

3.

Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

Misalnya:

kalah v 1 tidak menang …; 2 kehilangan atau merugi …; 3 tidak lulus …; 4 tidak menyamai

mengalah v mengaku kalah

 

mengalahkan v 1 menjadikan kalah …; 2 menaklukkan …; 3 menganggap kalah …

terkalahkan v dapat dikalahkan …

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.

II. PENULISAN KATA

A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya:

Buku itu sangat menarik.

Ibu sangat mengharapkan keberhasilanmu.

Kantor pajak penuh sesak.

Dia bertemu dengan kawannya di kantor pos.

B. Kata Turunan

1.

a.

Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:

berjalan

dipermainkan

gemetar

kemauan

lukisan

menengok

petani

b.

Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:

mem-PHK-kan

di-PTUN-kan

di-upgrade

me-recall

2.

Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5.)

Misalnya:

bertepuk tangan

garis bawahi

menganak sungai

sebar luaskan

3.

Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5.)

Misalnya:

dilipatgandakan

menggarisbawahi

menyebarluaskan

penghancurleburan

pertanggungjawaban

4.

Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu

 

ditulis serangkai.

Misalnya:

adipati

dwiwarna

paripurna

aerodinamika

ekawarna

poligami

antarkota

ekstrakurikuler

pramuniaga

antibiotik

infrastruktur

prasangka

anumerta

inkonvensional

purnawirawan

audiogram

kosponsor

saptakrida

awahama

mahasiswa

semiprofesional

bikarbonat

mancanegara

subseksi

biokimia

monoteisme

swadaya

caturtunggal

multilateral

telepon

dasawarsa

narapidana

transmigrasi

dekameter

nonkolaborasi

tritunggal

demoralisasi

pascasarjana

ultramodern

Catatan:

(1)

Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur itu.

Misalnya:

non-Indonesia

pan-Afrikanisme

pro-Barat

(2)

Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang diikuti oeh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan unsur unsurnya dimulai dengan huruf kapital.

Misalnya:

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

(3)

Jika kata maha, sebagai unsur gabungan, merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis serangkai.

Misalnya:

Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.

Mudah mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

(4)

Bentuk bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan sebagai bentuk dasar.

Misalnya:

Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daripada yang kontra.

Mereka memperlihatkan sikap anti terhadap kejahatan.

(5)

Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan.

Misalnya:

taklaik terbang

taktembus cahaya

tak bersuara

tak terpisahkan

C. Bentuk Ulang

1.

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya.

 

Misalnya:

anak-anak

mata-mata

berjalan-jalan

menulis-nulis

biri-biri

mondar-mandir

buku-buku

ramah-tamah

hati-hati

sayur-mayur

kuda-kuda

serba-serbi

kupu-kupu

terus-menerus

lauk-pauk

tukar-menukar

Catatan:

(1)

Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama saja.

Misalnya:

surat kabar

surat-surat kabar

kapal barang

kapal-kapal barang

rak buku

rak-rak buku

(2)

Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis dengan mengulang unsur pertama atau unsur keduanya dengan makna yang berbeda.

Misalnya:

orang besar

orang-orang besar

orang besar-besar

gedung tinggi

gedung-gedung tinggi

gedung tinggi-tinggi

2.

Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.

Misalnya:

kekanak-kanakan

perundang-undangan

melambai-lambaikan

dibesar-besarkan

memata-matai

(Lihat keinggris-inggrisan Bab I, Huruf F, Butir 7.)

Catatan:

Angka 2 dapat digunakan dalam penulisan bentuk ulang untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat atau kuliah.

Misalnya:

Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan undang2 baru.

Kami mengundang orang2 yang berminat saja.

Mereka me-lihat2 pameran.

Yang ditampilkan dalam pameran itu adalah buku2 terbitan Jakarta.

Bajunya ke-merah2-an

D. Gabungan Kata

1.

Unsur unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Misalnya:

duta besar

model linear

kambing hitam

orang tua

simpang empat

persegi panjang

mata pelajaran

rumah sakit umum

meja tulis

kereta api cepat luar biasa

2.

Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yang

 

bersangkutan.

Misalnya:

anak-istri Ali

anak istri-Ali

ibu-bapak kami

ibu bapak-kami

buku-sejarah baru

buku sejarah-baru

3.

Gabungan kata yang dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.

Misalnya:

acapkali

darmasiswa

puspawarna

adakalanya

darmawisata

radioaktif

akhirulkalam

dukacita

saptamarga

alhamdulillah

halalbihalal

saputangan

apalagi

hulubalang

saripati

astagfirullah

kacamata

sebagaimana

bagaimana

kasatmata

sediakala

barangkali

kepada

segitiga

beasiswa

kilometer

sekalipun

belasungkawa

manakala

sukacita

bilamana

manasuka

sukarela

bismillah

matahari

sukaria

bumiputra

padahal

syahbandar

daripada

peribahasa

waralaba

darmabakti

perilaku

wiraswata

E. Suku Kata

1.

Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

a.

Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Misalnya:

bu-ah

ma-in

ni-at

sa-at

b.

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak dipenggal.

Misalnya:

pan-dai

au-la

sau-da-ra

am-boi

c.

Jika di tengah kata dasar ada huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua buah huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.

Misalnya:

ba-pak

la-wan

de-ngan

ke-nyang

mu-ta-khir

mu-sya-wa-rah

d.

Jika di tengah kata dasar ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.

 

Misalnya:

Ap-ril

cap-lok

makh-luk

man-di

sang-gup

som-bong

swas-ta

e.

Jika di tengah kata dasar ada tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya:

ul-tra

in-fra

ben-trok

in-stru-men

Catatan:

(1)

Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.

Misalnya:

bang-krut

bang-sa

ba-nyak

ikh-las

kong-res

makh-luk

masy-hur

sang-gup

(2)

Pemenggalan kata tidak boleh menyebabkan munculnya satu huruf (vokal) di awal atau akhir baris.

Misalnya:

itu

i-tu

setia

se-ti-a

2.

Pemenggalan kata dengan awalan, akhiran, atau partikel dilakukan di antara bentuk dasar dan imbuhan atau partikel itu.

Misalnya:

ber-jalan

mem-bantu

di-ambil

ter-bawa

per-buat

makan-an

letak-kan

me-rasa-kan

pergi-lah

apa-kah

per-buat-an

ke-kuat-an

Catatan:

(1)

Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan

 

dilakukan seperti pada kata dasar.

Misalnya:

me-nu-tup

me-ma-kai

me-nya-pu

me-nge-cat

pe-no-long

pe-mi-kir

pe-nga-rang

pe-nye-but

pe-nge-tik

(2)

Akhiran -i tidak dipisahkan pada pergantian baris. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)

(3)

Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.

Misalnya:

ge-lem-bung

ge-mu-ruh

ge-ri-gi

si-nam-bung

te-lun-juk

(4)

Pemenggalan tidak dilakukan pada suku kata yang terdiri atas satu vokal.

Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ….

Walaupun cuma cuma, mereka tidak mau ambil makanan itu.

3.

Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap-tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)

Misalnya:

bio-grafi

bi-o-gra-fi

bio-data

bi-o-da-ta

foto-grafi

fo-to-gra-fi

foto-kopi

fo-to-ko-pi

intro-speksi

in-tro-spek-si

intro-jeksi

in-tro-jek-si

kilo-gram

ki-lo-gram

kilo-meter

ki-lo-me-ter

pasca-panen

pas-ca-pa-nen

pasca-sarjana

pas-ca-sar-ja-na

4.

Nama orang, badan hukum, atau nama diri lain yang terdiri atas dua unsur atau lebih dipenggal pada akhir baris di antara unsur-unsurnya (tanpa tanda pisah). Unsur nama yang berupa singkatan tidak dipisahkan.

F. Kata Depan

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam

gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. (Lihat juga Bab II, Huruf D, Butir 3.)

Misalnya:

Bermalam sajalah di sini.

Di mana dia sekarang?

Kain itu disimpan di dalam lemari.

Kawan-kawan bekerja di dalam gedung.

Dia berjalan-jalan di luar gedung.

Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

Mari kita berangkat ke kantor.

Saya pergi ke sana kemari mencarinya.

Ia datang dari Surabaya kemarin.

Saya tidak tahu dari mana dia berasal.

Cincin itu terbuat dari emas.

Catatan:

Kata-kata yang dicetak miring di dalam kalimat seperti di bawah ini ditulis serangkai.

Misalnya:

Kami percaya sepenuhnya kepadanya.

Dia lebih tua daripada saya.

Dia masuk, lalu keluar lagi.

Bawa kemari gambar itu.

Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.

G. Partikel

1.

Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!

Apakah yang tersirat dalam surat itu?

Siapakah gerangan dia?

Apatah gunanya bersedih hati?

2.

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.

Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.

Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.

Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.

Catatan:

Partikel pun pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Adapun sebab sebabnya belum diketahui.

Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.

Baik laki laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.

Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.

Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.

3.

Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.

Harga kain itu Rp50.000,00 per helai.

 

Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

Catatan:

Partikel per dalam bilangan pecahan yang ditulis dengan huruf dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. (Lihat Bab II, Huruf I, Butir 7.)

H. Singkatan dan Akronim

1.

Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a.

Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap singkatan itu.

Misalnya:

A.H. Nasution

Abdul Haris Nasution

H. Hamid

Haji Hamid

Suman Hs.

Suman Hasibuan

W.R. Supratman

Wage Rudolf Supratman

M.B.A.

master of business administration

M.Hum.

magister humaniora

M.Si.

magister sains

S.E.

sarjana ekonomi

S.Sos

sarjana sosial

S.Kom

sarjana komunikasi

S.K.M.

sarjana kesehatan masyarakat

Bpk.

bapak

Sdr.

saudara

Kol.

kolonel

b.

Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

DPR

Dewan Perwakilan Rakyat

PBB

Perserikatan Bangsa Bangsa

WHO

World Health Organization

PGRI

Persatuan Guru Republik Indonesia

PT

perseroan terbatas

SD

sekolah dasar

KTP

kartu tanda penduduk

c.

1)

Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

jml.

jumlah

kpd.

kepada

tgl.

tanggal

hlm.

halaman

yg.

yang

dl.

dalam

No.

nomor

2)

Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri dengan tanda titik.

Misalnya:

 

dll.

dan lain lain

dsb.

dan sebagainya

dst.

dan seterusnya

sda.

sama dengan atas

ybs.

yang bersangkutan

Yth.

Yang terhormat

Catatan:

Singkatan itu dapat digunakan untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat dan kuliah.

d.

Singkatan gabungan kata yang terdiri atas dua huruf (lazim digunakan dalam surat-menyurat) masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

a.n.

atas nama

d.a.

dengan alamat

u.b.

untuk beliau

u.p.

untuk perhatian

e.

Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda dengan titik.

Misalnya:

Cu

kuprum

cm

sentimeter

kg

kilogram

kVA

kilovolt ampere

l

liter

Rp

rupiah

TNT

trinitrotoluene

2.

Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata.

a.

Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

LAN

Lembaga Administrasi Negara

PASI

Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

SIM

surat izin mengemudi

b.

Akronim nama diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

Bulog

Badan Urusan Logistik

Bappenas

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Iwapi

Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

Kowani

Kongres Wanita Indonesia

c.

Akronim bukan nama diri yang berupa singkatan dari dua kata atau lebih ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

pemilu

pemilihan umum

iptek

ilmu pengetahuan dan teknologi

 

rapim

rapat pimpinan

rudal

peluru kendali

tilang

bukti pelanggaran

radar

radio detecting and ranging

Catatan:

Jika pembentukan akronim dianggap perlu, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut.

(1)

Jumlah suku kata akronim tidak melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia (tidak lebih dari tiga suku kata).

(2)

Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata bahasa Indonesia yang lazim agar mudah diucapkan dan diingat.

I. Angka dan Bilangan

Bilangan dapat dinyatakan dengan angka atau kata. Angka dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab

 :

0,1,2,3,4,5,6,7,8,9

Angka Romawi

 :

I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M (1.000.000)

 

1.

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai secara berurutan seperti dalam perincian atau paparan.

Misalnya:

Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.

Koleksi perpustakaan itu mencapai dua juta buku.

Di antara 72 anggota yang hadir 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang tidak memberikan suara.

Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.

2.

Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika lebih dari dua kata, susunan kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat ditulis dengan huruf itu tidak ada pada awal kalimat.

Misalnya:

Lima puluh siswa kelas 6 lulus ujian.

Panitia mengundang 250 orang peserta.

Bukan:

250 orang peserta diundang Panitia dalam seminar itu.

3.

Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.

Dia mendapatkan bantuan Rp250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.

Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

4.

Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, dan isi; (b) satuan waktu; (c) nilai uang; dan (d) jumlah.

 

Misalnya:

0,5 sentimeter

tahun 1928

5 kilogram

17 Agustus 1945

4 meter persegi

1 jam 20 menit

10 liter

pukul 15.00

Rp5.000,00

10 persen

US$3,50*

27 orang

£5,10*

 

¥100

 

2.000 rupiah

 

Catatan:

(1)

Tanda titik pada contoh bertanda bintang (*) merupakan tanda desimal.

(2)

Penulisan lambang mata uang, seperti Rp, US$, £, dan ¥ tidak diakhiri dengan tanda titik dan tidak ada spasi antara lambang itu dan angka yang mengikutinya, kecuali di dalam tabel.

5.

Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar.

Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No. 15

Jalan Wijaya No. 14

Apartemen No. 5

Hotel Mahameru, Kamar 169

6.

Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252

Surah Yasin: 9

Markus 2: 3

7.

Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a.

Bilangan utuh

Misalnya:

dua belas

(12)

tiga puluh

(30)

lima ribu

(5000)

b.

Bilangan pecahan

Misalnya:

setengah

(1/2)

seperenam belas

(1/16)

tiga perempat

(3/4)

dua persepuluh

(0,2) atau (2/10)

tiga dua pertiga

(3 2/3)

satu persen

(1%)

satu permil

(1‰)

Catatan:

(1)

Pada penulisan bilangan pecahan dengan mesin tik, spasi digunakan di antara bilangan utuh dan bilangan pecahan.

(2)

Tanda hubung dapat digunakan dalam penulisan lambang bilangan dengan huruf yang dapat menimbulkan salah pengertian.

 

Misalnya:

20 2/3

(dua puluh dua-pertiga)

22/30

(dua-puluh-dua pertiga puluh)

20 15/17

(dua puluh lima-belas pertujuh belas)

150 2/3

(seratus lima puluh dua-pertiga)

152/3

(seratus-lima-puluh-dua pertiga)

8.

Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

a.

pada awal abad XX (angka Romawi kapital)
dalam kehidupan pada abad ke-20 ini (huruf dan angka Arab
pada awal abad kedua puluh (huruf)

b.

kantor di tingkat II gedung itu (angka Romawi)
di tingkat ke-2 gedung itu (huruf dan angka Arab)
di tingkat kedua gedung itu (huruf)

9.

Penulisan bilangan yang mendapat akhiran an mengikuti cara berikut. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5).

Misalnya:

lima lembar uang 1.000-an

(lima lembar uang seribuan)

tahun 1950-an

(tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)

uang 5.000-an

(uang lima-ribuan)

10.

Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks (kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi).

Misalnya:

Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

Rumah itu dijual dengan harga Rp125.000.000,00.

11.

Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).

Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

Dia membeli uang dolar Amerika Serikat sebanyak $5,000.00 (lima ribu dolar).

Catatan:

(1)

Angka Romawi tidak digunakan untuk menyatakan jumlah.

(2)

Angka Romawi digunakan untuk menyatakan penomoran bab (dalam terbitan atau produk perundang-undangan) dan nomor jalan.

(3)

Angka Romawi kecil digunakan untuk penomoran halaman sebelum Bab I dalam naskah dan buku.

J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Buku ini boleh kau baca.

Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

Rumahnya sedang diperbaiki.

Catatan:

Kata kata ganti itu (-ku, -mu, dan -nya) dirangkaikan dengan tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa singkatan atau kata yang diawali dengan huruf kapital.

Misalnya:

KTP-mu

SIM-nya

STNK-ku

K. Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.

Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.

Ibu itu membelikan sang suami sebuah laptop.

Siti mematuhi nasihat sang kakak.

Catatan:

Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika kata-kata itu diperlakukan sebagai unsur nama diri.

Misalnya:

Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.

Dalam cerita itu Si Buta dari Goa Hantu berkelahi dengan musuhnya.

III. PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda Titik (.)

1.

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:

Ayahku tinggal di Solo.

Biarlah mereka duduk di sana.

Dia menanyakan siapa yang akan datang.

Catatan:

Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda titik. (Lihat juga Bab III, Huruf I.)

Misalnya:

Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A.

Dia memerlukan meja, kursi, dsb.

Dia mengatakan, “kaki saya sakit.”

2.

Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a.

III.

Departemen Pendidikan Nasional

A.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

B.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

1.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini

2.

b.

1. Patokan Umum

1.1 Isi Karangan

1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan

1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik

2. Patokan Khusus

2.1 …

2.2 …

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

3.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)

Catatan:

Penulisan waktu dengan angka dapat mengikuti salah satu cara berikut.

(1)

Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 12 dapat dilengkapi dengan keterangan pagi, siang, sore, atau malam.

Misalnya:

pukul 9.00 pagi

 

pukul 11.00 siang

pukul 5.00 sore

pukul 8.00 malam

(2)

Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 24 tidak memerlukan keterangan pagi, siang, atau malam.

Misalnya:

pukul 00.45

pukul 07.30

pukul 11.00

pukul 17.00

pukul 22.00

4.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:

1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

0.0.30 jam (30 detik)

5.

Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

Misalnya:

Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

Catatan:

Urutan informasi mengenai daftar pustaka tergantung pada lembaga yang bersangkutan.

6.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Siswa yang lulus masuk perguruan tinggi negeri 12.000 orang.

Penduduk Jakarta lebih dari 11.000.000 orang.

Catatan:

(1)

Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

Nomor gironya 5645678.

(2)

Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara Kunjungan Menteri Pendidikan Nasional

Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)

Salah Asuhan

(3)

Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) nama dan alamat penerima surat, (b) nama dan alamat pengirim surat, dan (c) di belakang tanggal surat.

Misalnya:

Yth. Kepala Kantor Penempatan Tenaga

 

Jalan Cikini 71

Jakarta

Yth. Sdr. Moh. Hasan

Jalan Arif Rahmad 43

Palembang

Adinda

Jalan Diponegoro 82

Jakarta

21 April 2008

(4)

Pemisahan bilangan ribuan atau kelipatannya dan desimal dilakukan sebagai berikut.

Rp200.250,75

$ 50,000.50

8.750 m

8,750 m

7.

Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan (Lihat Bab II, Huruf H.)

B. Tanda Koma (,)

1.

Tanda koma dipakai di antara unsur unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Surat biasa, surat kilat, ataupun surat kilat khusus memerlukan prangko.

Satu, dua, … tiga!

2.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.

Misalnya:

Saya akan membeli buku-buku puisi, tetapi kau yang memilihnya.

Ini bukan buku saya, melainkan buku ayah saya.

Dia senang membaca cerita pendek, sedangkan adiknya suka membaca puisi

Semua mahasiswa harus hadir, kecuali yang tinggal di luar kota.

3.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

Kalau ada undangan, saya akan datang.

Karena tidak congkak, dia mempunyai banyak teman.

Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

Saya akan datang kalau ada undangan.

Dia mempunyai banyak teman karena tidak congkak.

Kita harus membaca banyak buku agar memiliki wawasan yang luas.

4.

Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.

Misalnya:

 

Anak itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.

Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar

Meskipun begitu, dia tidak pernah berlaku sombong kepada siapapun.

Catatan:

Ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu, tidak dipakai pada awal paragraf.

5.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:

O, begitu?

Wah, bukan main!

Hati hati, ya, jalannya licin.

Mas, kapan pulang?

Mengapa kamu diam, Dik?

Kue ini enak, Bu.

6.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab III, Huruf J dan K.)

Misalnya:

Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena lulus ujian.”

7.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Guru.

“Masuk ke kelas sekarang!” perintahnya.

8.

Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor

Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta

Surabaya, 10 Mei 1960

Tokyo, Jepang.

9.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.

Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.

Junus, H. Mahmud. 1973. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Alquran

Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

10.

Tanda koma dipakai di antara bagian bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Misalnya:

Alisjahbana, S. Takdir, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

Hilman, Hadikusuma, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.

Poerwadarminta, W.J.S. Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

11.

Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

B. Ratulangi, S.E.

Ny. Khadijah, M.A.

Bambang Irawan, S.H.

Siti Aminah, S.E., M.M.

Catatan:

Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).

12.

Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

27,3 kg

Rp500,50

Rp750,00

Catatan:

Bandingkan dengan penggunaan tanda titik yang dimulai dengan angka desimal atau di antara dolar dan sen.

13.

Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab III, Huruf F.)

Misalnya:

Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Catatan:

Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit dengan tanda koma.

Misalnya:

Semua siswa yang lulus ujian akan mendapat ijazah.

14.

Tanda koma dapat dipakai–untuk menghindari salah baca/salah pengertian–di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini.

Atas perhatian Saudara, kami ucapan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini dalam

 

pengembangan kosakata.

Kami ucapkan terima kasih atas perhatian Saudara.

C. Tanda Titik Koma (;)

1.

Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

Misalnya:

Hari sudah malam; anak anak masih membaca buku buku yang baru dibeli ayahnya.

Ayah mengurus tanaman di kebun; Ibu menulis makalah di ruang kerjanya; Adik membaca di teras depan; saya sendiri asyik memetik gitar menyanyikan puisi-puisi penyair kesayanganku.

2.

Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.

Misalnya:

Syarat syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini:

(1)

berkewarganegaraan Indonesia;

(2)

berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya;

(3)

berbadan sehat;

(4)

bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3.

Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

Misalnya:

Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, dan jeruk.

Agenda rapat ini meliputi pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara; penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

D. Tanda Titik Dua (:)

1.

Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:

Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.

Catatan:

Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

2.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

a.

Ketua

 :

Ahmad Wijaya

Sekretaris

 :

Siti Aryani

Bendahara

 :

Aulia Arimbi

 

b.

Tempat

 :

Ruang Sidang Nusantara

Pembawa Acara

 :

Bambang S.

Hari, tanggal

 :

Selasa, 28 Oktober 2008

Waktu

 :

09.00—10.30

 

3.

Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu

 :

“Bawa kopor ini, Nak!”

Amir

 :

“Baik, Bu.”

Ibu

 :

“Jangan lupa. Letakkan baik baik!”

4.

Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:

Horison, XLIII, No. 8/2008: 8

Surah Yasin: 9

Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara

Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa

E. Tanda Hubung (-)

1.

Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya:

Di samping cara lama diterapkan juga ca-

ra baru ….

Sebagaimana kata peribahasa, tak ada ga-

ding yang takretak.

2.

Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.

Misalnya:

Kini ada cara yang baru untuk meng-

ukur panas.

Kukuran baru ini memudahkan kita me-

ngukur kelapa.

Senjata ini merupakan sarana pertahan-

an yang canggih.

3.

Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

anak-anak

berulang-ulang

kemerah-merahan

4.

Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Misalnya:

8-4-2008

p-a-n-i-t-i-a

5.

Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.

Misalnya:

 

ber-evolusi

dua-puluh ribuan (20 x 1.000)

tanggung-jawab-dan-kesetiakawanan sosial (tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan sosial)

Karyawan boleh mengajak anak-istri ke acara pertemuan besok.

Bandingkan dengan:

be-revolusi

dua-puluh-ribuan (1 x 20.000)

tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial

6.

Tanda hubung dipakai untuk merangkai:

a.

se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,

b.

ke- dengan angka,

c.

angka dengan -an,

d.

kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital,

e.

kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan

f.

gabungan kata yang merupakan kesatuan.

Misalnya:

se-Indonesia

peringkat ke-2

tahun 1950-an

hari-H

sinar-X

mem-PHK-kan

ciptaan-Nya

atas rahmat-Mu

Bandara Sukarno-Hatta

alat pandang-dengar

7.

Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:

di-smash

di-mark-up

pen-tackle-an

F. Tanda Pisah (–)

1.

Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan itu—hak segala bangsa—harus dipertahankan.

Keberhasilan itu–saya yakin–dapat dicapai kalau kita mau berusaha keras.

2.

Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:

Rangkaian temuan ini–evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom–telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia–amanat Sumpah Pemuda–harus terus ditingkatkan.

3.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

 

Misalnya:

Tahun 1928–2008

Tanggal 5–10 April 2008

Jakarta–Bandung

Catatan:

(1)

Tanda pisah tunggal dapat digunakan untuk memisahkan keterangan tambahan pada akhir kalimat.

Misalnya:

Kita memerlukan alat tulis–pena, pensil, dan kertas.

(Bandingkan dengan Bab III, Huruf D, kaidah 1.)

(2)

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda Tanya (?)

1.

Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

Kapan dia berangkat?

Saudara tahu, bukan?

2.

Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:

Dia dilahirkan pada tahun 1963 (?).

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

H. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.

Misalnya:

Alangkah indahnya taman laut ini!

Bersihkan kamar itu sekarang juga!

Sampai hati benar dia meninggalkan istrinya!

Merdeka!

I. Tanda Elipsis (…)

1.

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya:

Kalau begitu …, marilah kita laksanakan.

Jika Saudara setuju dengan harga itu …, pembayarannya akan segera kami lakukan.

2.

Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

Pengetahuan dan pengalaman kita … masih sangat terbatas.

Catatan:

(1)

Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.

(2)

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai 4 tanda titik: 3 tanda titik untuk menandai penghilangan teks dan 1 tanda titik untuk menandai akhir kalimat.

 

(3)

Tanda elipsis pada akhir kalimat tidak diikuti dengan spasi.

Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan cermat ….

J. Tanda Petik (” “)

1.

Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.

Misalnya:

Pasal 36 UUD 1945 menyatakan, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia. “

Ibu berkata, “Paman berangkat besok pagi. “

“Saya belum siap,” kata dia, “tunggu sebentar!”

2.

Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.

Bacalah “Penggunaan Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

“Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarik perhatian peserta seminar.

3.

Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

Dia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

Catatan:

(1)

Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:

Kata dia, “Saya juga minta satu.”

Dia bertanya, “Apakah saya boleh ikut?”

(2)

Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:

Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Karena warna kulitnya, dia mendapat julukan “Si Hitam”.

(3)

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

(4)

Tanda petik (“) dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda. (sama dengan di atas) atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar.

Misalnya:

zaman

bukan

jaman

asas

azas

plaza

plasa

jadwal

jadual

bus

bis

K. Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)

1.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain.

Misalnya:

Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring kring’ tadi?”

“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

2.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.

Misalnya:

terpandai

‘paling’ pandai

retina

‘dinding mata sebelah dalam’

mengambil langkah seribu

‘lari pontang panting’

‘sombong, angkuh’

 

3.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab III, Huruf M)

Misalnya:

feed-back

‘balikan’

dress rehearsal

‘geladi bersih’

tadulako

‘panglima’

L. Tanda Kurung (( ))

1.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Anak itu tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk).

Dia tidak membawa SIM (surat izin mengemudi).

Catatan:

Dalam penulisan didahulukan bentuk lengkap setelah itu bentuk singkatnya.

Misalnya:

Saya sedang mengurus perpanjangan kartu tanda penduduk (KTP). KTP itu merupakan tanda pengenal dalam berbagai keperluan.

2.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Misalnya:

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.

3.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya:

Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

Pejalan kaki itu berasal dari (Kota) Surabaya.

4.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci urutan keterangan.

Misalnya:

Faktor produksi menyangkut masalah (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.

 

Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan (1) akta kelahiran, (2) ijazah terakhir, dan (3) surat keterangan kesehatan.

Catatan:

Tanda kurung tunggal dapat dipakai untuk mengiringi angka atau huruf yang menyatakan perincian yang disusun ke bawah.

Misalnya:

Kemarin kakak saya membeli

1)

buku,

2)

pensil, dan

3)

tas sekolah.

Dia senang dengan mata pelajaran

a)

fisika,

b)

biologi, dan

c)

kimia.

M. Tanda Kurung Siku ([ ])

1.

Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

Ia memberikan uang [kepada] anaknya.

Ulang tahun [hari kemerdekaan] Republik Indonesia jatuh pada hari Selasa.

2.

Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Misalnya:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.

N. Tanda Garis Miring (/)

1.

Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun ajaran.

Misalnya:

No. 7/PK/2008

Jalan Kramat III/10

tahun ajaran 2008/2009

2.

Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun.

Misalnya:

dikirimkan lewat darat/laut

‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’

harganya Rp1.500,00/lembar

‘harganya Rp1.500,00 tiap lembar’

tindakan penipuan dan/atau penganiayaan

‘tindakan penipuan dan penganiayaan, tindakan penipuan, atau

tindakan penganiayaan’

Catatan:

Tanda garis miring ganda (//) dapat digunakan untuk membatasi penggalan-penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan naskah.

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Dia ‘kan sudah kusurati.

('kan = bukan)

Malam ‘lah tiba.

('lah = telah)

1 Januari ’08

('08 = 1988)

IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan de l’homme par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal itu, diusahakan ejaannya disesuaikan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga agar bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

 

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu adalah sebagai berikut.

a (ain Arab dengan a) menjadi ‘a

 

asr

asar

sa’ah

saat

manfa’ah

manfaat

‘ (ain Arab) di akhir suku kata menjadi k

 

ra’yah

rakyat

ma’na

makna

ruku’

rukuk

aa (Belanda) menjadi a

 

paal

pal

baal

bal

octaaf

oktaf

ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e

 

aerobe

aerob

aerodinamics

aerodinamika

ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e

 

haemoglobin

hemoglobin

haematite

hematit

ai tetap ai

 

trailer

trailer

caisson

kaison

au tetap au

 

audiogram

audiogram

autotroph

autotrof

tautomer

tautomer

hydraulic

hidraulik

caustic

kaustik

c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

 

calomel

kalomel

construction

konstruksi

cubic

kubik

 

coup

kup

classification

klasifikasi

crystal

kristal

c di muka e, i, oe, dan y menjadi s

central

sentral

cent

sen

cybernetics

sibernetika

circulation

sirkulasi

cylinder

silinder

coelom

selom

cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

accomodation

akomodasi

acculturation

akulturasi

acclimatization

aklimatisasi

accumulation

akumulasi

acclamation

aklamasi

cc di muka e dan i menjadi ks

accent

aksen

accessory

aksesori

vaccine

vaksin

cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k

saccharin

sakarin

charisma

karisma

cholera

kolera

chromosome

kromosom

technique

teknik

ch yang lafalnya s atau sy menjadi s

echelon

eselon

machine

mesin

ch yang lafalnya c menjadi c

chip

cip

voucher

vocer

China

Cina

ck menjadi k

check

cek

ticket

tiket

ç (Sanskerta) menjadi s

çabda

sabda

çastra

sastra

d (Arab) menjadi d

darurat

darurat

fardu

fardu

hadir

hadir

e tetap e

effect

efek

description

deskripsi

 

synthesis

sintesis

ea tetap ea

idealist

idealis

habeas

habeas

ee (Belanda) menjadi e

stratosfeer

stratosfer

systeem

sistem

ei tetap ei

eicosane

eikosan

eidetic

eidetik

einsteinium

einsteinium

eo tetap eo

stereo

stereo

geometry

geometri

zeolite

zeolit

eu tetap eu

neutron

neutron

eugenol

eugenol

europium

europium

f (Arab) menjadi f

faqīr

fakir

mafhum

mafhum

saf

saf

f tetap f

fanatic

fanatik

factor

faktor

fossil

fosil

gh menjadi g

sorghum

sorgum

gue menjadi ge

igue

ige

gigue

gige

h (Arab) menjadi h

hakim

hakim

tahmid

tahmid

ruh

roh

i pada awal suku kata di muka vokal tetap i

iambus

iambus

ion

ion

iota

iota

ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i

politiek

politik

riem

rim

ie tetap ie jika lafalnya bukan i

 

variety

varietas

patient

pasien

efficient

efisien

kh (Arab) tetap kh

khusus

khusus

akhir

akhir

ng tetap ng

contingent

kontingen

congres

kongres

linguistics

linguistik

oe (oi Yunani) menjadi e

oestrogen

estrogen

oenology

enologi

foetus

fetus

oo (Belanda) menjadi o

komfoor

kompor

provoost

provos

oo (Inggris) menjadi u

cartoon

kartun

proof

pruf

pool

pul

oo (vokal ganda) tetap oo

zoology

zoologi

coordination

koordinasi

ou menjadi u jika lafalnya u

gouverneur

gubernur

coupon

kupon

contour

kontur

ph menjadi f

phase

fase

physiology

fisiologi

spectograph

spektograf

ps tetap ps

pseudo

pseudo

psychiatry

psikiatri

psychic

psikis

psychosomatic

psikosomatik

pt tetap pt

pterosaur

pterosaur

pteridology

pteridologi

ptyalin

ptialin

q menjadi k

aquarium

akuarium

frequency

frekuensi

equator

ekuator

q (Arab) menjadi k

qalbu

kalbu

haqiqah

hakikah

haqq

hak

rh menjadi r

rhapsody

rapsodi

rhombus

rombus

rhythm

ritme

rhetoric

retorika

s (Arab) menjadi s

salj

salju

asiri

asiri

hadis

hadis

s (Arab) menjadi s

subh

subuh

musibah

musibah

khusus

khusus

sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk

scandium

skandium

scotopia

skotopia

scutella

skutela

sclerosis

sklerosis

scriptie

skripsi

sc di muka e, i, dan y menjadi s

scenography

senografi

scintillation

sintilasi

scyphistoma

sifistoma

sch di muka vokal menjadi sk

schema

skema

schizophrenia

skizofrenia

scholasticism

skolastisisme

t di muka i menjadi s jika lafalnya s

ratio

rasio

actie

aksi

patient

pasien

t (Arab) menjadi t

ta’ah

taat

mutlaq

mutlak

Lut

Lut

th menjadi t

theocracy

teokrasi

orthography

ortografi

thiopental

tiopental

thrombosis

trombosis

methode (Belanda)

metode

u tetap u

unit

unit

 

nucleolus

nukleolus

structure

struktur

institute

institut

ua tetap ua

dualisme

dualisme

aquarium

akuarium

ue tetap ue

suede

sued

duet

duet

ui tetap ui

equinox

ekuinoks

conduite

konduite

uo tetap uo

fluorescein

fluoresein

quorum

kuorum

quota

kuota

uu menjadi u

prematuur

prematur

vacuum

vakum

v tetap v

vitamin

vitamin

television

televisi

cavalry

kavaleri

w (Arab) tetap w

jadwal

jadwal

marwa

marwa

taqwa

takwa

x pada awal kata tetap x

xanthate

xantat

xenon

xenon

xylophone

xilofon

x pada posisi lain menjadi ks

executive

eksekutif

taxi

taksi

exudation

eksudasi

latex

lateks

xc di muka e dan i menjadi ks

exception

eksepsi

excess

ekses

excision

eksisi

excitation

eksitasi

xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk

excavation

ekskavasi

excommunication

ekskomunikasi

excursive

ekskursif

exclusive

eksklusif

y tetap y jika lafalnya y

yakitori

yakitori

yangonin

yangonin

yen

yen

yuan

yuan

y menjadi i jika lafalnya i

yttrium

itrium

dynamo

dinamo

propyl

propil

psychology

psikologi

z tetap z

zenith

zenit

zirconium

zirkonium

zodiac

zodiak

zygote

zigot

z (Arab) menjadi z

zalim

zalim

hafiz

hafiz

Konsonan ganda menjadi tunggal, kecuali kalau dapat membingungkan.

Misalnya:

gabbro

gabro

accu

aki

effect

efek

commission

komisi

ferrum

ferum

salfeggio

salfegio

ummat

umat

tammat

tamat

Tetapi:

mass

massa

Catatan:

1.

Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.

Misalnya:

bengkel, kabar, nalar, paham, perlu, sirsak

2.

Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, unsur yang mengandung kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang dipaparkan di atas. Kedua huruf itu dipergunakan dalam penggunaan tertentu saja, seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, di bawah ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.

-aat (Belanda) menjadi -at

advocaat

advokat

 

-age menjadi -ase

percentage

persentase

etalage

etalase

-al (Inggris), -eel (Belanda), -aal (Belanda) menjadi -al

structural, structureel

struktural

formal, formeel

formal

normal, normaal

normal

-ant menjadi -an

accountant

akuntan

informant

informan

-archy, -archie (Belanda) menjadi -arki

anarchy, anarchie

anarki

oligarchy, oligarchie

oligarki

-ary, -air (Belanda) menjadi -er

complementary, complementair

komplementer

primary, primair

primer

secondary, secundair

sekunder

-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si

action, actie

aksi

publication, publicatie

publikasi

-eel (Belanda) menjadi -el

ideëel

ideel

materieel

materiel

moreel

morel

-ein tetap -ein

casein

kasein

protein

protein

-i (Arab) tetap -i

haqiqi

hakiki

insani

insani

jasmani

jasmani

-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika

logic, logica

logika

phonetics, phonetiek

fonetik

physics, physica

fisika

dialectics, dialektica

dialektika

technique, techniek

teknik

-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik

electronic, elektronisch

elektronik

mechanic, mechanisch

mekanik

ballistic, ballistisch

balistik

-ical, -isch (Belanda) menjadi -is

economical, economisch

ekonomis

practical, practisch

praktis

 

logical, logisch

logis

-ile, -iel menjadi -il

percentile, percentiel

persentil

mobile, mobiel

mobil

-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme

modernism, modernisme

modernisme

communism, communisme

komunisme

-ist menjadi -is

publicist

publisis

egoist

egois

-ive, -ief (Belanda) menjadi -if

descriptive, descriptief

deskriptif

demonstrative, demonstratief

demonstratif

-iyyah, -iyyat (Arab) menjadi -iah

alamiyyah

alamiah

aliyyah

aliah

ilmiyyah

ilmiah

-logue menjadi -log

catalogue

catalog

dialogue

dialog

-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi

technology, technologie

teknologi

physiology, physiologie

fisiologi

analogy, analogie

analogi

-loog (Belanda) menjadi -log

analoog

analog

epiloog

epilog

-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid

hominoid, hominoide

hominoid

anthropoid, anthropoide

antropoid

-oir(e) menjadi -oar

trotoir

trotoar

repertoire

repertoar

-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir

director, directeur

direktur

inspector, inspecteur

inspektur

amateur

amatir

formateur

formatur

-or tetap -or

dictator

diktator

corrector

korektor

-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas

university, universiteit

universitas

quality, kwaliteit

kualitas

 

-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur

structure, struktuur

struktur

premature, prematuur

prematur

 

 

 

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.

Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.[5] Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.


Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan Van Ophuijsen adalah jenis ejaan yang pernah digunakan untuk bahasa Indonesia.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf Latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

Kebanyakan catatan tertulis bahasa Melayu pada masa itu menggunakan huruf Arab yang dikenal sebagai tulisan Jawi.

Sejarah singkat

Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan bahasa Indonesia yang pertama kali oleh Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku. Dalam kitab itu dimuat sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Ejaan ini akhirnya digantikan oleh Ejaan Republik pada 17 Maret 1947.

Ejaan Republik

Ejaan Republik (edjaan repoeblik) adalah ketentuan ejaan dalam Bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Ejaan ini kemudian juga disebut dengan nama edjaan Soewandi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu.

Ejaan ini mengganti ejaan sebelumnya, yaitu Ejaan Van Ophuijsen yang mulai berlaku sejak tahun 1901.

Perbedaan-perbedaan antara ejaan ini dengan ejaan Van Ophuijsen ialah:

  • huruf ‘oe’ menjadi ‘u’, seperti pada goeroeguru.
  • bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan (‘) ditulis dengan ‘k’, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
  • kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.
  • awalan ‘di-‘ dan kata depan ‘di’ kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.

Ejaan Soewandi ini berlaku sampai tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada masa menteri Mashuri Saleh. Pada masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 23 Mei 1972 Mashuri mengesahkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia yang menggantikan Ejaan Soewandi. Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan mencopot nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari Djl. Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.

Pembaruan ejaan

Pembaruan ejaan (bahasa Inggris: spelling reform) adalah tindakan untuk memperbaiki sistem ejaan dengan membuatnya lebih menggambarkan fonem yang ada dalam suatu bahasa. Sejak awal abad ke-19, lebih dari 31 bahasa modern telah melakukan pembaruan ejaan, kadang secara radikal. Indonesia telah mengalami beberapa kali pembaruan ejaan dengan yang terakhir berupa pemberlakuan Ejaan Yang Disempurnakan pada tahun 1972.

Ejaan Melindo

Ejaan Melindo adalah sistem ejaan Latin yang termuat dalam Pengumuman Bersama Edjaan Bahasa Melaju-Indonesia (Melindo) (1959) sebagai hasil usaha penyatuan sistem ejaan dengan huruf Latin di Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu. Keputusan ini dilakukan dalam Perjanjian Persahabatan Indonesia dan Malaysia pada tahun 1959. Sistem ini tidak pernah sampai diterapkan.

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang Disempurnakan adalah penyempurnaan dari ejaan – ejaan sebelumnya yang merupakan hasil kerja dari panitia ejaan Bahasa Indonesia yang dibentuk oleh LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) pada 1966. Ejaan ini diresmikan dalam pidato kenegaraan memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 27, 17 Agustus 1972. Selanjutnya dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Beberapa penyempurnaan itu diantaranya adalah :

1. Huruf J, DJ, NJ, CH, TJ, SJ pada Ejaan Soewandi diubah menjadi Y, J, NY, KH, C, SY
2. Kata ulang harus ditulis hanya dengan menggunakan tanda hubung. Penggunaan angka 2 diperkenankan hanya pada penulisan cepat atau notula.

I. PEMAKAIAN HURUF

A. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di kolom ketiga.

Huruf

Nama

Kapital

Kecil

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet

B. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.

Huruf
Vokal

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

a
e*

i
o
u

api
enak
emas
itu
oleh
ulang
padi
petak
kena
simpan
kota
bumi
lusa
sore
tipe
murni
radio
ibu

Keterangan:

*

Untuk keperluan pelafalan kata yang benar, tanda aksen (‘) dapat digunakan jika ejaan kata menimbulkan keraguan.

Misalnya:

Anak-anak bermain di teras (téras).

Upacara itu dihadiri pejabat teras Bank Indonesia.

Kami menonton film seri (séri).

Pertandingan itu berakhir seri.

Di mana kécap itu dibuat?

Coba kecap dulu makanan itu.

C. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf
Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

b
c
d
f
g
h
j
k

l
m
n
p
q**
r
s
t
v
w
x**
y
z

bahasa
cakap
dua
fakir
guna
hari
jalan
kami
-
lekas
maka
nama
pasang
Quran
raih
sampai
tali
varia
wanita
xerox
yakin
zeni
sebut
kaca
ada
kafan
tiga
saham
manja
paksa
rakyat*
alas
kami
tanah
apa
status quo
bara
asli
mata
lava
hawa
-
payung
lazim
adab
-
Abad
maaf
gudeg
tuah
mikraj
politik
bapak*
akal
diam
daun
siap
Taufiq
putar
tangkas
rapat
-
-
sinar-x
-
juz

Keterangan:

*

Huruf k melambangkan bunyi hamzah.

**

Huruf q dan x khusus dipakai untuk nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan keperluan ilmu (seperti status quo dan sinar x).

D. Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf
Diftong

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

ai
au
oi
ain
aula
-
malaikat
saudara
boikot
pandai
harimau
amboi

E. Gabungan Huruf Konsonan

Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing masing melambangkan satu bunyi konsonan.

Gabungan
Huruf
Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

kh
ng
ny
sy
khusus
ngilu
nyata
syarat
akhir
bangun
banyak
isyarat
tarikh
senang
-
arasy

Catatan:

Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain ditulis sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.

F. Huruf Kapital

1.

Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:

Dia membaca buku.

Apa maksudnya?

Kita harus bekerja keras.

Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”

Kemarin engkau terlambat,” katanya.

Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat.”

3.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Islam

Quran

Kristen

Alkitab

Hindu

Weda

Allah

Yang Mahakuasa

Yang Maha Pengasih

Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

 

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin

Sultan Hasanuddin

Haji Agus Salim

Imam Syafii

Nabi Ibrahim

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Pada tahun ini dia pergi naik haji.

Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.

5.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

Profesor Supomo

Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian

Gubernur Jawa Tengah

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.

Misalnya:

Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.

Sidang itu dipimpin Presiden.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.

Misalnya:

Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?

Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.

Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.

6.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.

Misalnya:

Amir Hamzah

Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman

Halim Perdanakusumah

Ampere

Catatan:

 

(1)

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).

Misalnya:

J.J de Hollander

J.P. van Bruggen

H. van der Giessen

Otto von Bismarck

Vasco da Gama

(2)

Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.

Misalnya:

Abdul Rahman bin Zaini

Ibrahim bin Adham

Siti Fatimah binti Salim

Zaitun binti Zainal

 

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

pascal second

Pas

J/K atau JK-1

joule per Kelvin

N

Newton

c.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

mesin diesel

10 volt

5 ampere

7.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

bangsa Eskimo

suku Sunda

bahasa Indonesia

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

pengindonesiaan kata asing

keinggris-inggrisan

kejawa-jawaan

8.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.

Misalnya:

tahun Hijriah

tarikh Masehi

bulan Agustus

bulan Maulid

hari Jumat

hari Galungan

hari Lebaran

hari Natal

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.

 

Misalnya:

Perang Candu

Perang Dunia I

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.

Misalnya:

Banyuwangi

Asia Tenggara

Cirebon

Amerika Serikat

Eropa

Jawa Barat

b.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.

Misalnya:

Bukit Barisan

Danau Toba

Dataran Tinggi Dieng

Gunung Semeru

Jalan Diponegoro

Jazirah Arab

Ngarai Sianok

Lembah Baliem

Selat Lombok

Pegunungan Jayawijaya

Sungai Musi

Tanjung Harapan

Teluk Benggala

Terusan Suez

c.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.

Misalnya:

ukiran Jepara

pempek Palembang

tari Melayu

sarung Mandar

asinan Bogor

sate Mak Ajad

d.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.

Misalnya:

berlayar ke teluk

mandi di sungai

menyeberangi selat

berenang di danau

e.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.

Misalnya:

nangka belanda

kunci inggris

petai cina

pisang ambon

10.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.

Misalnya:

 

Republik Indonesia

Departemen Keuangan

Majelis Permusyawaratan Rakyat

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.

Misalnya:

beberapa badan hukum

kerja sama antara pemerintah dan rakyat

menjadi sebuah republik

menurut undang-undang yang berlaku

Catatan:

Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.

Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.

Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.

11.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan

12.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.

13.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:

Dr.

doktor

S.E.

sarjana ekonomi

S.H.

sarjana hukum

S.S.

sarjana sastra

S.Kp.

sarjana keperawatan

M.A.

master of arts

M.Hum.

magister humaniora

Prof.

profesor

K.H.

kiai haji

Tn.

tuan

 

Ny.

nyonya

Sdr.

saudara

Catatan:

Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

14.

a.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.

Misalnya:

Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”

Besok Paman akan datang.

Surat Saudara sudah saya terima.

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.

“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.

b.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

15.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Siapa nama Anda?

Surat Anda telah kami terima dengan baik.

16.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).

G. Huruf Miring

1.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:

Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.

Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.

Berita itu muncul dalam surat kabar Suara Merdeka.

Catatan:

Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

2.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya:

Huruf pertama kata abad adalah a.

Dia bukan menipu, melainkan ditipu.

Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.

 

Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan berlepas tangan.

3.

a.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Weltanschauung dipadankan dengan ‘pandangan dunia’.

b.

Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.

Misalnya:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi.

H. Huruf Tebal

1.

Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.

Misalnya:

Judul

 :

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Bab

 :

BAB I PENDAHULUAN

Bagian bab

 :

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Tujuan

Daftar, indeks, dan lampiran:

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMBANG

DAFTAR PUSTAKA

INDEKS

LAMPIRAN

2.

Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.

Misalnya:

Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.

Saya tidak mengambil bukumu.

Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

Seharusnya ditulis dengan huruf miring:

Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.

Saya tidak mengambil bukumu.

Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

3.

Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

Misalnya:

kalah v 1 tidak menang …; 2 kehilangan atau merugi …; 3 tidak lulus …; 4 tidak menyamai

mengalah v mengaku kalah

 

mengalahkan v 1 menjadikan kalah …; 2 menaklukkan …; 3 menganggap kalah …

terkalahkan v dapat dikalahkan …

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.

II. PENULISAN KATA

A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya:

Buku itu sangat menarik.

Ibu sangat mengharapkan keberhasilanmu.

Kantor pajak penuh sesak.

Dia bertemu dengan kawannya di kantor pos.

B. Kata Turunan

1.

a.

Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:

berjalan

dipermainkan

gemetar

kemauan

lukisan

menengok

petani

b.

Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:

mem-PHK-kan

di-PTUN-kan

di-upgrade

me-recall

2.

Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5.)

Misalnya:

bertepuk tangan

garis bawahi

menganak sungai

sebar luaskan

3.

Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5.)

Misalnya:

dilipatgandakan

menggarisbawahi

menyebarluaskan

penghancurleburan

pertanggungjawaban

4.

Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu

 

ditulis serangkai.

Misalnya:

adipati

dwiwarna

paripurna

aerodinamika

ekawarna

poligami

antarkota

ekstrakurikuler

pramuniaga

antibiotik

infrastruktur

prasangka

anumerta

inkonvensional

purnawirawan

audiogram

kosponsor

saptakrida

awahama

mahasiswa

semiprofesional

bikarbonat

mancanegara

subseksi

biokimia

monoteisme

swadaya

caturtunggal

multilateral

telepon

dasawarsa

narapidana

transmigrasi

dekameter

nonkolaborasi

tritunggal

demoralisasi

pascasarjana

ultramodern

Catatan:

(1)

Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur itu.

Misalnya:

non-Indonesia

pan-Afrikanisme

pro-Barat

(2)

Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang diikuti oeh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan unsur unsurnya dimulai dengan huruf kapital.

Misalnya:

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

(3)

Jika kata maha, sebagai unsur gabungan, merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis serangkai.

Misalnya:

Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.

Mudah mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

(4)

Bentuk bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan sebagai bentuk dasar.

Misalnya:

Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daripada yang kontra.

Mereka memperlihatkan sikap anti terhadap kejahatan.

(5)

Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan.

Misalnya:

taklaik terbang

taktembus cahaya

tak bersuara

tak terpisahkan

C. Bentuk Ulang

1.

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya.

 

Misalnya:

anak-anak

mata-mata

berjalan-jalan

menulis-nulis

biri-biri

mondar-mandir

buku-buku

ramah-tamah

hati-hati

sayur-mayur

kuda-kuda

serba-serbi

kupu-kupu

terus-menerus

lauk-pauk

tukar-menukar

Catatan:

(1)

Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama saja.

Misalnya:

surat kabar

surat-surat kabar

kapal barang

kapal-kapal barang

rak buku

rak-rak buku

(2)

Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis dengan mengulang unsur pertama atau unsur keduanya dengan makna yang berbeda.

Misalnya:

orang besar

orang-orang besar

orang besar-besar

gedung tinggi

gedung-gedung tinggi

gedung tinggi-tinggi

2.

Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.

Misalnya:

kekanak-kanakan

perundang-undangan

melambai-lambaikan

dibesar-besarkan

memata-matai

(Lihat keinggris-inggrisan Bab I, Huruf F, Butir 7.)

Catatan:

Angka 2 dapat digunakan dalam penulisan bentuk ulang untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat atau kuliah.

Misalnya:

Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan undang2 baru.

Kami mengundang orang2 yang berminat saja.

Mereka me-lihat2 pameran.

Yang ditampilkan dalam pameran itu adalah buku2 terbitan Jakarta.

Bajunya ke-merah2-an

D. Gabungan Kata

1.

Unsur unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Misalnya:

duta besar

model linear

kambing hitam

orang tua

simpang empat

persegi panjang

mata pelajaran

rumah sakit umum

meja tulis

kereta api cepat luar biasa

2.

Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yang

 

bersangkutan.

Misalnya:

anak-istri Ali

anak istri-Ali

ibu-bapak kami

ibu bapak-kami

buku-sejarah baru

buku sejarah-baru

3.

Gabungan kata yang dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.

Misalnya:

acapkali

darmasiswa

puspawarna

adakalanya

darmawisata

radioaktif

akhirulkalam

dukacita

saptamarga

alhamdulillah

halalbihalal

saputangan

apalagi

hulubalang

saripati

astagfirullah

kacamata

sebagaimana

bagaimana

kasatmata

sediakala

barangkali

kepada

segitiga

beasiswa

kilometer

sekalipun

belasungkawa

manakala

sukacita

bilamana

manasuka

sukarela

bismillah

matahari

sukaria

bumiputra

padahal

syahbandar

daripada

peribahasa

waralaba

darmabakti

perilaku

wiraswata

E. Suku Kata

1.

Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

a.

Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Misalnya:

bu-ah

ma-in

ni-at

sa-at

b.

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak dipenggal.

Misalnya:

pan-dai

au-la

sau-da-ra

am-boi

c.

Jika di tengah kata dasar ada huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua buah huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.

Misalnya:

ba-pak

la-wan

de-ngan

ke-nyang

mu-ta-khir

mu-sya-wa-rah

d.

Jika di tengah kata dasar ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.

 

Misalnya:

Ap-ril

cap-lok

makh-luk

man-di

sang-gup

som-bong

swas-ta

e.

Jika di tengah kata dasar ada tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya:

ul-tra

in-fra

ben-trok

in-stru-men

Catatan:

(1)

Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.

Misalnya:

bang-krut

bang-sa

ba-nyak

ikh-las

kong-res

makh-luk

masy-hur

sang-gup

(2)

Pemenggalan kata tidak boleh menyebabkan munculnya satu huruf (vokal) di awal atau akhir baris.

Misalnya:

itu

i-tu

setia

se-ti-a

2.

Pemenggalan kata dengan awalan, akhiran, atau partikel dilakukan di antara bentuk dasar dan imbuhan atau partikel itu.

Misalnya:

ber-jalan

mem-bantu

di-ambil

ter-bawa

per-buat

makan-an

letak-kan

me-rasa-kan

pergi-lah

apa-kah

per-buat-an

ke-kuat-an

Catatan:

(1)

Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan

 

dilakukan seperti pada kata dasar.

Misalnya:

me-nu-tup

me-ma-kai

me-nya-pu

me-nge-cat

pe-no-long

pe-mi-kir

pe-nga-rang

pe-nye-but

pe-nge-tik

(2)

Akhiran -i tidak dipisahkan pada pergantian baris. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)

(3)

Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.

Misalnya:

ge-lem-bung

ge-mu-ruh

ge-ri-gi

si-nam-bung

te-lun-juk

(4)

Pemenggalan tidak dilakukan pada suku kata yang terdiri atas satu vokal.

Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ….

Walaupun cuma cuma, mereka tidak mau ambil makanan itu.

3.

Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap-tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)

Misalnya:

bio-grafi

bi-o-gra-fi

bio-data

bi-o-da-ta

foto-grafi

fo-to-gra-fi

foto-kopi

fo-to-ko-pi

intro-speksi

in-tro-spek-si

intro-jeksi

in-tro-jek-si

kilo-gram

ki-lo-gram

kilo-meter

ki-lo-me-ter

pasca-panen

pas-ca-pa-nen

pasca-sarjana

pas-ca-sar-ja-na

4.

Nama orang, badan hukum, atau nama diri lain yang terdiri atas dua unsur atau lebih dipenggal pada akhir baris di antara unsur-unsurnya (tanpa tanda pisah). Unsur nama yang berupa singkatan tidak dipisahkan.

F. Kata Depan

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam

gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. (Lihat juga Bab II, Huruf D, Butir 3.)

Misalnya:

Bermalam sajalah di sini.

Di mana dia sekarang?

Kain itu disimpan di dalam lemari.

Kawan-kawan bekerja di dalam gedung.

Dia berjalan-jalan di luar gedung.

Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

Mari kita berangkat ke kantor.

Saya pergi ke sana kemari mencarinya.

Ia datang dari Surabaya kemarin.

Saya tidak tahu dari mana dia berasal.

Cincin itu terbuat dari emas.

Catatan:

Kata-kata yang dicetak miring di dalam kalimat seperti di bawah ini ditulis serangkai.

Misalnya:

Kami percaya sepenuhnya kepadanya.

Dia lebih tua daripada saya.

Dia masuk, lalu keluar lagi.

Bawa kemari gambar itu.

Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.

G. Partikel

1.

Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!

Apakah yang tersirat dalam surat itu?

Siapakah gerangan dia?

Apatah gunanya bersedih hati?

2.

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.

Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.

Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.

Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.

Catatan:

Partikel pun pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Adapun sebab sebabnya belum diketahui.

Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.

Baik laki laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.

Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.

Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.

3.

Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.

Harga kain itu Rp50.000,00 per helai.

 

Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

Catatan:

Partikel per dalam bilangan pecahan yang ditulis dengan huruf dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. (Lihat Bab II, Huruf I, Butir 7.)

H. Singkatan dan Akronim

1.

Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a.

Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap singkatan itu.

Misalnya:

A.H. Nasution

Abdul Haris Nasution

H. Hamid

Haji Hamid

Suman Hs.

Suman Hasibuan

W.R. Supratman

Wage Rudolf Supratman

M.B.A.

master of business administration

M.Hum.

magister humaniora

M.Si.

magister sains

S.E.

sarjana ekonomi

S.Sos

sarjana sosial

S.Kom

sarjana komunikasi

S.K.M.

sarjana kesehatan masyarakat

Bpk.

bapak

Sdr.

saudara

Kol.

kolonel

b.

Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

DPR

Dewan Perwakilan Rakyat

PBB

Perserikatan Bangsa Bangsa

WHO

World Health Organization

PGRI

Persatuan Guru Republik Indonesia

PT

perseroan terbatas

SD

sekolah dasar

KTP

kartu tanda penduduk

c.

1)

Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

jml.

jumlah

kpd.

kepada

tgl.

tanggal

hlm.

halaman

yg.

yang

dl.

dalam

No.

nomor

2)

Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri dengan tanda titik.

Misalnya:

 

dll.

dan lain lain

dsb.

dan sebagainya

dst.

dan seterusnya

sda.

sama dengan atas

ybs.

yang bersangkutan

Yth.

Yang terhormat

Catatan:

Singkatan itu dapat digunakan untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat dan kuliah.

d.

Singkatan gabungan kata yang terdiri atas dua huruf (lazim digunakan dalam surat-menyurat) masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

a.n.

atas nama

d.a.

dengan alamat

u.b.

untuk beliau

u.p.

untuk perhatian

e.

Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda dengan titik.

Misalnya:

Cu

kuprum

cm

sentimeter

kg

kilogram

kVA

kilovolt ampere

l

liter

Rp

rupiah

TNT

trinitrotoluene

2.

Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata.

a.

Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

LAN

Lembaga Administrasi Negara

PASI

Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

SIM

surat izin mengemudi

b.

Akronim nama diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

Bulog

Badan Urusan Logistik

Bappenas

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Iwapi

Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

Kowani

Kongres Wanita Indonesia

c.

Akronim bukan nama diri yang berupa singkatan dari dua kata atau lebih ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

pemilu

pemilihan umum

iptek

ilmu pengetahuan dan teknologi

 

rapim

rapat pimpinan

rudal

peluru kendali

tilang

bukti pelanggaran

radar

radio detecting and ranging

Catatan:

Jika pembentukan akronim dianggap perlu, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut.

(1)

Jumlah suku kata akronim tidak melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia (tidak lebih dari tiga suku kata).

(2)

Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata bahasa Indonesia yang lazim agar mudah diucapkan dan diingat.

I. Angka dan Bilangan

Bilangan dapat dinyatakan dengan angka atau kata. Angka dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab

 :

0,1,2,3,4,5,6,7,8,9

Angka Romawi

 :

I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M (1.000.000)

 

1.

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai secara berurutan seperti dalam perincian atau paparan.

Misalnya:

Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.

Koleksi perpustakaan itu mencapai dua juta buku.

Di antara 72 anggota yang hadir 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang tidak memberikan suara.

Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.

2.

Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika lebih dari dua kata, susunan kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat ditulis dengan huruf itu tidak ada pada awal kalimat.

Misalnya:

Lima puluh siswa kelas 6 lulus ujian.

Panitia mengundang 250 orang peserta.

Bukan:

250 orang peserta diundang Panitia dalam seminar itu.

3.

Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.

Dia mendapatkan bantuan Rp250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.

Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

4.

Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, dan isi; (b) satuan waktu; (c) nilai uang; dan (d) jumlah.

 

Misalnya:

0,5 sentimeter

tahun 1928

5 kilogram

17 Agustus 1945

4 meter persegi

1 jam 20 menit

10 liter

pukul 15.00

Rp5.000,00

10 persen

US$3,50*

27 orang

£5,10*

 

¥100

 

2.000 rupiah

 

Catatan:

(1)

Tanda titik pada contoh bertanda bintang (*) merupakan tanda desimal.

(2)

Penulisan lambang mata uang, seperti Rp, US$, £, dan ¥ tidak diakhiri dengan tanda titik dan tidak ada spasi antara lambang itu dan angka yang mengikutinya, kecuali di dalam tabel.

5.

Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar.

Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No. 15

Jalan Wijaya No. 14

Apartemen No. 5

Hotel Mahameru, Kamar 169

6.

Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252

Surah Yasin: 9

Markus 2: 3

7.

Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a.

Bilangan utuh

Misalnya:

dua belas

(12)

tiga puluh

(30)

lima ribu

(5000)

b.

Bilangan pecahan

Misalnya:

setengah

(1/2)

seperenam belas

(1/16)

tiga perempat

(3/4)

dua persepuluh

(0,2) atau (2/10)

tiga dua pertiga

(3 2/3)

satu persen

(1%)

satu permil

(1‰)

Catatan:

(1)

Pada penulisan bilangan pecahan dengan mesin tik, spasi digunakan di antara bilangan utuh dan bilangan pecahan.

(2)

Tanda hubung dapat digunakan dalam penulisan lambang bilangan dengan huruf yang dapat menimbulkan salah pengertian.

 

Misalnya:

20 2/3

(dua puluh dua-pertiga)

22/30

(dua-puluh-dua pertiga puluh)

20 15/17

(dua puluh lima-belas pertujuh belas)

150 2/3

(seratus lima puluh dua-pertiga)

152/3

(seratus-lima-puluh-dua pertiga)

8.

Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

a.

pada awal abad XX (angka Romawi kapital)
dalam kehidupan pada abad ke-20 ini (huruf dan angka Arab
pada awal abad kedua puluh (huruf)

b.

kantor di tingkat II gedung itu (angka Romawi)
di tingkat ke-2 gedung itu (huruf dan angka Arab)
di tingkat kedua gedung itu (huruf)

9.

Penulisan bilangan yang mendapat akhiran an mengikuti cara berikut. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5).

Misalnya:

lima lembar uang 1.000-an

(lima lembar uang seribuan)

tahun 1950-an

(tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)

uang 5.000-an

(uang lima-ribuan)

10.

Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks (kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi).

Misalnya:

Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

Rumah itu dijual dengan harga Rp125.000.000,00.

11.

Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).

Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

Dia membeli uang dolar Amerika Serikat sebanyak $5,000.00 (lima ribu dolar).

Catatan:

(1)

Angka Romawi tidak digunakan untuk menyatakan jumlah.

(2)

Angka Romawi digunakan untuk menyatakan penomoran bab (dalam terbitan atau produk perundang-undangan) dan nomor jalan.

(3)

Angka Romawi kecil digunakan untuk penomoran halaman sebelum Bab I dalam naskah dan buku.

J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Buku ini boleh kau baca.

Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

Rumahnya sedang diperbaiki.

Catatan:

Kata kata ganti itu (-ku, -mu, dan -nya) dirangkaikan dengan tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa singkatan atau kata yang diawali dengan huruf kapital.

Misalnya:

KTP-mu

SIM-nya

STNK-ku

K. Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.

Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.

Ibu itu membelikan sang suami sebuah laptop.

Siti mematuhi nasihat sang kakak.

Catatan:

Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika kata-kata itu diperlakukan sebagai unsur nama diri.

Misalnya:

Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.

Dalam cerita itu Si Buta dari Goa Hantu berkelahi dengan musuhnya.

III. PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda Titik (.)

1.

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:

Ayahku tinggal di Solo.

Biarlah mereka duduk di sana.

Dia menanyakan siapa yang akan datang.

Catatan:

Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda titik. (Lihat juga Bab III, Huruf I.)

Misalnya:

Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A.

Dia memerlukan meja, kursi, dsb.

Dia mengatakan, “kaki saya sakit.”

2.

Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a.

III.

Departemen Pendidikan Nasional

A.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

B.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

1.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini

2.

b.

1. Patokan Umum

1.1 Isi Karangan

1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan

1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik

2. Patokan Khusus

2.1 …

2.2 …

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

3.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)

Catatan:

Penulisan waktu dengan angka dapat mengikuti salah satu cara berikut.

(1)

Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 12 dapat dilengkapi dengan keterangan pagi, siang, sore, atau malam.

Misalnya:

pukul 9.00 pagi

 

pukul 11.00 siang

pukul 5.00 sore

pukul 8.00 malam

(2)

Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 24 tidak memerlukan keterangan pagi, siang, atau malam.

Misalnya:

pukul 00.45

pukul 07.30

pukul 11.00

pukul 17.00

pukul 22.00

4.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:

1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

0.0.30 jam (30 detik)

5.

Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

Misalnya:

Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

Catatan:

Urutan informasi mengenai daftar pustaka tergantung pada lembaga yang bersangkutan.

6.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Siswa yang lulus masuk perguruan tinggi negeri 12.000 orang.

Penduduk Jakarta lebih dari 11.000.000 orang.

Catatan:

(1)

Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

Nomor gironya 5645678.

(2)

Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara Kunjungan Menteri Pendidikan Nasional

Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)

Salah Asuhan

(3)

Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) nama dan alamat penerima surat, (b) nama dan alamat pengirim surat, dan (c) di belakang tanggal surat.

Misalnya:

Yth. Kepala Kantor Penempatan Tenaga

 

Jalan Cikini 71

Jakarta

Yth. Sdr. Moh. Hasan

Jalan Arif Rahmad 43

Palembang

Adinda

Jalan Diponegoro 82

Jakarta

21 April 2008

(4)

Pemisahan bilangan ribuan atau kelipatannya dan desimal dilakukan sebagai berikut.

Rp200.250,75

$ 50,000.50

8.750 m

8,750 m

7.

Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan (Lihat Bab II, Huruf H.)

B. Tanda Koma (,)

1.

Tanda koma dipakai di antara unsur unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Surat biasa, surat kilat, ataupun surat kilat khusus memerlukan prangko.

Satu, dua, … tiga!

2.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.

Misalnya:

Saya akan membeli buku-buku puisi, tetapi kau yang memilihnya.

Ini bukan buku saya, melainkan buku ayah saya.

Dia senang membaca cerita pendek, sedangkan adiknya suka membaca puisi

Semua mahasiswa harus hadir, kecuali yang tinggal di luar kota.

3.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

Kalau ada undangan, saya akan datang.

Karena tidak congkak, dia mempunyai banyak teman.

Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

Saya akan datang kalau ada undangan.

Dia mempunyai banyak teman karena tidak congkak.

Kita harus membaca banyak buku agar memiliki wawasan yang luas.

4.

Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.

Misalnya:

 

Anak itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.

Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar

Meskipun begitu, dia tidak pernah berlaku sombong kepada siapapun.

Catatan:

Ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu, tidak dipakai pada awal paragraf.

5.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:

O, begitu?

Wah, bukan main!

Hati hati, ya, jalannya licin.

Mas, kapan pulang?

Mengapa kamu diam, Dik?

Kue ini enak, Bu.

6.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab III, Huruf J dan K.)

Misalnya:

Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena lulus ujian.”

7.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Guru.

“Masuk ke kelas sekarang!” perintahnya.

8.

Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor

Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta

Surabaya, 10 Mei 1960

Tokyo, Jepang.

9.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.

Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.

Junus, H. Mahmud. 1973. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Alquran

Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

10.

Tanda koma dipakai di antara bagian bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Misalnya:

Alisjahbana, S. Takdir, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

Hilman, Hadikusuma, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.

Poerwadarminta, W.J.S. Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

11.

Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

B. Ratulangi, S.E.

Ny. Khadijah, M.A.

Bambang Irawan, S.H.

Siti Aminah, S.E., M.M.

Catatan:

Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).

12.

Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

27,3 kg

Rp500,50

Rp750,00

Catatan:

Bandingkan dengan penggunaan tanda titik yang dimulai dengan angka desimal atau di antara dolar dan sen.

13.

Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab III, Huruf F.)

Misalnya:

Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Catatan:

Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit dengan tanda koma.

Misalnya:

Semua siswa yang lulus ujian akan mendapat ijazah.

14.

Tanda koma dapat dipakai–untuk menghindari salah baca/salah pengertian–di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini.

Atas perhatian Saudara, kami ucapan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini dalam

 

pengembangan kosakata.

Kami ucapkan terima kasih atas perhatian Saudara.

C. Tanda Titik Koma (;)

1.

Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

Misalnya:

Hari sudah malam; anak anak masih membaca buku buku yang baru dibeli ayahnya.

Ayah mengurus tanaman di kebun; Ibu menulis makalah di ruang kerjanya; Adik membaca di teras depan; saya sendiri asyik memetik gitar menyanyikan puisi-puisi penyair kesayanganku.

2.

Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.

Misalnya:

Syarat syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini:

(1)

berkewarganegaraan Indonesia;

(2)

berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya;

(3)

berbadan sehat;

(4)

bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3.

Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

Misalnya:

Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, dan jeruk.

Agenda rapat ini meliputi pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara; penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

D. Tanda Titik Dua (:)

1.

Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:

Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.

Catatan:

Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

2.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

a.

Ketua

 :

Ahmad Wijaya

Sekretaris

 :

Siti Aryani

Bendahara

 :

Aulia Arimbi

 

b.

Tempat

 :

Ruang Sidang Nusantara

Pembawa Acara

 :

Bambang S.

Hari, tanggal

 :

Selasa, 28 Oktober 2008

Waktu

 :

09.00—10.30

 

3.

Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu

 :

“Bawa kopor ini, Nak!”

Amir

 :

“Baik, Bu.”

Ibu

 :

“Jangan lupa. Letakkan baik baik!”

4.

Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:

Horison, XLIII, No. 8/2008: 8

Surah Yasin: 9

Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara

Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa

E. Tanda Hubung (-)

1.

Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya:

Di samping cara lama diterapkan juga ca-

ra baru ….

Sebagaimana kata peribahasa, tak ada ga-

ding yang takretak.

2.

Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.

Misalnya:

Kini ada cara yang baru untuk meng-

ukur panas.

Kukuran baru ini memudahkan kita me-

ngukur kelapa.

Senjata ini merupakan sarana pertahan-

an yang canggih.

3.

Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

anak-anak

berulang-ulang

kemerah-merahan

4.

Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Misalnya:

8-4-2008

p-a-n-i-t-i-a

5.

Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.

Misalnya:

 

ber-evolusi

dua-puluh ribuan (20 x 1.000)

tanggung-jawab-dan-kesetiakawanan sosial (tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan sosial)

Karyawan boleh mengajak anak-istri ke acara pertemuan besok.

Bandingkan dengan:

be-revolusi

dua-puluh-ribuan (1 x 20.000)

tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial

6.

Tanda hubung dipakai untuk merangkai:

a.

se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,

b.

ke- dengan angka,

c.

angka dengan -an,

d.

kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital,

e.

kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan

f.

gabungan kata yang merupakan kesatuan.

Misalnya:

se-Indonesia

peringkat ke-2

tahun 1950-an

hari-H

sinar-X

mem-PHK-kan

ciptaan-Nya

atas rahmat-Mu

Bandara Sukarno-Hatta

alat pandang-dengar

7.

Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:

di-smash

di-mark-up

pen-tackle-an

F. Tanda Pisah (–)

1.

Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan itu—hak segala bangsa—harus dipertahankan.

Keberhasilan itu–saya yakin–dapat dicapai kalau kita mau berusaha keras.

2.

Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:

Rangkaian temuan ini–evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom–telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia–amanat Sumpah Pemuda–harus terus ditingkatkan.

3.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

 

Misalnya:

Tahun 1928–2008

Tanggal 5–10 April 2008

Jakarta–Bandung

Catatan:

(1)

Tanda pisah tunggal dapat digunakan untuk memisahkan keterangan tambahan pada akhir kalimat.

Misalnya:

Kita memerlukan alat tulis–pena, pensil, dan kertas.

(Bandingkan dengan Bab III, Huruf D, kaidah 1.)

(2)

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda Tanya (?)

1.

Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

Kapan dia berangkat?

Saudara tahu, bukan?

2.

Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:

Dia dilahirkan pada tahun 1963 (?).

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

H. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.

Misalnya:

Alangkah indahnya taman laut ini!

Bersihkan kamar itu sekarang juga!

Sampai hati benar dia meninggalkan istrinya!

Merdeka!

I. Tanda Elipsis (…)

1.

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya:

Kalau begitu …, marilah kita laksanakan.

Jika Saudara setuju dengan harga itu …, pembayarannya akan segera kami lakukan.

2.

Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

Pengetahuan dan pengalaman kita … masih sangat terbatas.

Catatan:

(1)

Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.

(2)

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai 4 tanda titik: 3 tanda titik untuk menandai penghilangan teks dan 1 tanda titik untuk menandai akhir kalimat.

 

(3)

Tanda elipsis pada akhir kalimat tidak diikuti dengan spasi.

Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan cermat ….

J. Tanda Petik (” “)

1.

Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.

Misalnya:

Pasal 36 UUD 1945 menyatakan, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia. “

Ibu berkata, “Paman berangkat besok pagi. “

“Saya belum siap,” kata dia, “tunggu sebentar!”

2.

Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.

Bacalah “Penggunaan Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

“Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarik perhatian peserta seminar.

3.

Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

Dia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

Catatan:

(1)

Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:

Kata dia, “Saya juga minta satu.”

Dia bertanya, “Apakah saya boleh ikut?”

(2)

Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:

Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Karena warna kulitnya, dia mendapat julukan “Si Hitam”.

(3)

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

(4)

Tanda petik (“) dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda. (sama dengan di atas) atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar.

Misalnya:

zaman

bukan

jaman

asas

azas

plaza

plasa

jadwal

jadual

bus

bis

K. Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)

1.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain.

Misalnya:

Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring kring’ tadi?”

“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

2.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.

Misalnya:

terpandai

‘paling’ pandai

retina

‘dinding mata sebelah dalam’

mengambil langkah seribu

‘lari pontang panting’

‘sombong, angkuh’

 

3.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab III, Huruf M)

Misalnya:

feed-back

‘balikan’

dress rehearsal

‘geladi bersih’

tadulako

‘panglima’

L. Tanda Kurung (( ))

1.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Anak itu tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk).

Dia tidak membawa SIM (surat izin mengemudi).

Catatan:

Dalam penulisan didahulukan bentuk lengkap setelah itu bentuk singkatnya.

Misalnya:

Saya sedang mengurus perpanjangan kartu tanda penduduk (KTP). KTP itu merupakan tanda pengenal dalam berbagai keperluan.

2.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Misalnya:

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.

3.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya:

Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

Pejalan kaki itu berasal dari (Kota) Surabaya.

4.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci urutan keterangan.

Misalnya:

Faktor produksi menyangkut masalah (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.

 

Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan (1) akta kelahiran, (2) ijazah terakhir, dan (3) surat keterangan kesehatan.

Catatan:

Tanda kurung tunggal dapat dipakai untuk mengiringi angka atau huruf yang menyatakan perincian yang disusun ke bawah.

Misalnya:

Kemarin kakak saya membeli

1)

buku,

2)

pensil, dan

3)

tas sekolah.

Dia senang dengan mata pelajaran

a)

fisika,

b)

biologi, dan

c)

kimia.

M. Tanda Kurung Siku ([ ])

1.

Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

Ia memberikan uang [kepada] anaknya.

Ulang tahun [hari kemerdekaan] Republik Indonesia jatuh pada hari Selasa.

2.

Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Misalnya:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.

N. Tanda Garis Miring (/)

1.

Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun ajaran.

Misalnya:

No. 7/PK/2008

Jalan Kramat III/10

tahun ajaran 2008/2009

2.

Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun.

Misalnya:

dikirimkan lewat darat/laut

‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’

harganya Rp1.500,00/lembar

‘harganya Rp1.500,00 tiap lembar’

tindakan penipuan dan/atau penganiayaan

‘tindakan penipuan dan penganiayaan, tindakan penipuan, atau

tindakan penganiayaan’

Catatan:

Tanda garis miring ganda (//) dapat digunakan untuk membatasi penggalan-penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan naskah.

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Dia ‘kan sudah kusurati.

('kan = bukan)

Malam ‘lah tiba.

('lah = telah)

1 Januari ’08

('08 = 1988)

IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan de l’homme par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal itu, diusahakan ejaannya disesuaikan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga agar bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu adalah sebagai berikut.

a (ain Arab dengan a) menjadi ‘a

asr

asar

sa’ah

saat

manfa’ah

manfaat

‘ (ain Arab) di akhir suku kata menjadi k

ra’yah

rakyat

ma’na

makna

ruku’

rukuk

aa (Belanda) menjadi a

paal

pal

baal

bal

octaaf

oktaf

ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e

aerobe

aerob

aerodinamics

aerodinamika

ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e

haemoglobin

hemoglobin

haematite

hematit

ai tetap ai

trailer

trailer

caisson

kaison

au tetap au

audiogram

audiogram

autotroph

autotrof

tautomer

tautomer

hydraulic

hidraulik

caustic

kaustik

c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

calomel

kalomel

construction

konstruksi

cubic

kubik

 

coup

kup

classification

klasifikasi

crystal

kristal

c di muka e, i, oe, dan y menjadi s

central

sentral

cent

sen

cybernetics

sibernetika

circulation

sirkulasi

cylinder

silinder

coelom

selom

cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

accomodation

akomodasi

acculturation

akulturasi

acclimatization

aklimatisasi

accumulation

akumulasi

acclamation

aklamasi

cc di muka e dan i menjadi ks

accent

aksen

accessory

aksesori

vaccine

vaksin

cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k

saccharin

sakarin

charisma

karisma

cholera

kolera

chromosome

kromosom

technique

teknik

ch yang lafalnya s atau sy menjadi s

echelon

eselon

machine

mesin

ch yang lafalnya c menjadi c

chip

cip

voucher

vocer

China

Cina

ck menjadi k

check

cek

ticket

tiket

ç (Sanskerta) menjadi s

çabda

sabda

çastra

sastra

d (Arab) menjadi d

darurat

darurat

fardu

fardu

hadir

hadir

e tetap e

effect

efek

description

deskripsi

 

synthesis

sintesis

ea tetap ea

idealist

idealis

habeas

habeas

ee (Belanda) menjadi e

stratosfeer

stratosfer

systeem

sistem

ei tetap ei

eicosane

eikosan

eidetic

eidetik

einsteinium

einsteinium

eo tetap eo

stereo

stereo

geometry

geometri

zeolite

zeolit

eu tetap eu

neutron

neutron

eugenol

eugenol

europium

europium

f (Arab) menjadi f

faqīr

fakir

mafhum

mafhum

saf

saf

f tetap f

fanatic

fanatik

factor

faktor

fossil

fosil

gh menjadi g

sorghum

sorgum

gue menjadi ge

igue

ige

gigue

gige

h (Arab) menjadi h

hakim

hakim

tahmid

tahmid

ruh

roh

i pada awal suku kata di muka vokal tetap i

iambus

iambus

ion

ion

iota

iota

ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i

politiek

politik

riem

rim

ie tetap ie jika lafalnya bukan i

variety

varietas

patient

pasien

efficient

efisien

kh (Arab) tetap kh

khusus

khusus

akhir

akhir

ng tetap ng

contingent

kontingen

congres

kongres

linguistics

linguistik

oe (oi Yunani) menjadi e

oestrogen

estrogen

oenology

enologi

foetus

fetus

oo (Belanda) menjadi o

komfoor

kompor

provoost

provos

oo (Inggris) menjadi u

cartoon

kartun

proof

pruf

pool

pul

oo (vokal ganda) tetap oo

zoology

zoologi

coordination

koordinasi

ou menjadi u jika lafalnya u

gouverneur

gubernur

coupon

kupon

contour

kontur

ph menjadi f

phase

fase

physiology

fisiologi

spectograph

spektograf

ps tetap ps

pseudo

pseudo

psychiatry

psikiatri

psychic

psikis

psychosomatic

psikosomatik

pt tetap pt

pterosaur

pterosaur

pteridology

pteridologi

ptyalin

ptialin

q menjadi k

aquarium

akuarium

frequency

frekuensi

equator

ekuator

q (Arab) menjadi k

qalbu

kalbu

haqiqah

hakikah

haqq

hak

rh menjadi r

rhapsody

rapsodi

rhombus

rombus

rhythm

ritme

rhetoric

retorika

s (Arab) menjadi s

salj

salju

asiri

asiri

hadis

hadis

s (Arab) menjadi s

subh

subuh

musibah

musibah

khusus

khusus

sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk

scandium

skandium

scotopia

skotopia

scutella

skutela

sclerosis

sklerosis

scriptie

skripsi

sc di muka e, i, dan y menjadi s

scenography

senografi

scintillation

sintilasi

scyphistoma

sifistoma

sch di muka vokal menjadi sk

schema

skema

schizophrenia

skizofrenia

scholasticism

skolastisisme

t di muka i menjadi s jika lafalnya s

ratio

rasio

actie

aksi

patient

pasien

t (Arab) menjadi t

ta’ah

taat

mutlaq

mutlak

Lut

Lut

th menjadi t

theocracy

teokrasi

orthography

ortografi

thiopental

tiopental

thrombosis

trombosis

methode (Belanda)

metode

u tetap u

unit

unit

 

nucleolus

nukleolus

structure

struktur

institute

institut

ua tetap ua

dualisme

dualisme

aquarium

akuarium

ue tetap ue

suede

sued

duet

duet

ui tetap ui

equinox

ekuinoks

conduite

konduite

uo tetap uo

fluorescein

fluoresein

quorum

kuorum

quota

kuota

uu menjadi u

prematuur

prematur

vacuum

vakum

v tetap v

vitamin

vitamin

television

televisi

cavalry

kavaleri

w (Arab) tetap w

jadwal

jadwal

marwa

marwa

taqwa

takwa

x pada awal kata tetap x

xanthate

xantat

xenon

xenon

xylophone

xilofon

x pada posisi lain menjadi ks

executive

eksekutif

taxi

taksi

exudation

eksudasi

latex

lateks

xc di muka e dan i menjadi ks

exception

eksepsi

excess

ekses

excision

eksisi

excitation

eksitasi

xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk

excavation

ekskavasi

excommunication

ekskomunikasi

excursive

ekskursif

exclusive

eksklusif

y tetap y jika lafalnya y

yakitori

yakitori

yangonin

yangonin

yen

yen

yuan

yuan

y menjadi i jika lafalnya i

yttrium

itrium

dynamo

dinamo

propyl

propil

psychology

psikologi

z tetap z

zenith

zenit

zirconium

zirkonium

zodiac

zodiak

zygote

zigot

z (Arab) menjadi z

zalim

zalim

hafiz

hafiz

Konsonan ganda menjadi tunggal, kecuali kalau dapat membingungkan.

Misalnya:

gabbro

gabro

accu

aki

effect

efek

commission

komisi

ferrum

ferum

salfeggio

salfegio

ummat

umat

tammat

tamat

Tetapi:

mass

massa

Catatan:

1.

Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.

Misalnya:

bengkel, kabar, nalar, paham, perlu, sirsak

2.

Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, unsur yang mengandung kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang dipaparkan di atas. Kedua huruf itu dipergunakan dalam penggunaan tertentu saja, seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, di bawah ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.

-aat (Belanda) menjadi -at

advocaat

advokat

 

-age menjadi -ase

percentage

persentase

etalage

etalase

-al (Inggris), -eel (Belanda), -aal (Belanda) menjadi -al

structural, structureel

struktural

formal, formeel

formal

normal, normaal

normal

-ant menjadi -an

accountant

akuntan

informant

informan

-archy, -archie (Belanda) menjadi -arki

anarchy, anarchie

anarki

oligarchy, oligarchie

oligarki

-ary, -air (Belanda) menjadi -er

complementary, complementair

komplementer

primary, primair

primer

secondary, secundair

sekunder

-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si

action, actie

aksi

publication, publicatie

publikasi

-eel (Belanda) menjadi -el

ideëel

ideel

materieel

materiel

moreel

morel

-ein tetap -ein

casein

kasein

protein

protein

-i (Arab) tetap -i

haqiqi

hakiki

insani

insani

jasmani

jasmani

-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika

logic, logica

logika

phonetics, phonetiek

fonetik

physics, physica

fisika

dialectics, dialektica

dialektika

technique, techniek

teknik

-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik

electronic, elektronisch

elektronik

mechanic, mechanisch

mekanik

ballistic, ballistisch

balistik

-ical, -isch (Belanda) menjadi -is

economical, economisch

ekonomis

practical, practisch

praktis

 

logical, logisch

logis

-ile, -iel menjadi -il

percentile, percentiel

persentil

mobile, mobiel

mobil

-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme

modernism, modernisme

modernisme

communism, communisme

komunisme

-ist menjadi -is

publicist

publisis

egoist

egois

-ive, -ief (Belanda) menjadi -if

descriptive, descriptief

deskriptif

demonstrative, demonstratief

demonstratif

-iyyah, -iyyat (Arab) menjadi -iah

alamiyyah

alamiah

aliyyah

aliah

ilmiyyah

ilmiah

-logue menjadi -log

catalogue

catalog

dialogue

dialog

-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi

technology, technologie

teknologi

physiology, physiologie

fisiologi

analogy, analogie

analogi

-loog (Belanda) menjadi -log

analoog

analog

epiloog

epilog

-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid

hominoid, hominoide

hominoid

anthropoid, anthropoide

antropoid

-oir(e) menjadi -oar

trotoir

trotoar

repertoire

repertoar

-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir

director, directeur

direktur

inspector, inspecteur

inspektur

amateur

amatir

formateur

formatur

-or tetap -or

dictator

diktator

corrector

korektor

-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas

university, universiteit

universitas

quality, kwaliteit

kualitas

 

-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur

structure, struktuur

struktur

premature, prematuur

prematur

 

 

 

About these ads
By hestilawinisari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s